Sejarah PPBI Belitung
Perkembangan bonsai di Belitung telah dimulai sejak tahun 1989, Pada Tahun 1990 Bpk Alm Ismail Saleh Selaku Menteri Kehakiman Melakukan Kunjungan Dinas ke Belitung, pada waktu itu Bpk alm ismail saleh yang juga selaku Pelindung Organisasi PPBI Pusat Menyempatkan diri ke lokasi lahan bakalan Bonsai Sapu Sapu dan Sekuncung selaku pohon Endemik Pulau Belitung, Pasa saat berada di lokasi tersebut terucaplah bahasa (kata-kata) oleh Bpk Alm Ismail Saleh "Segera Membentuk Kepengurusan PPBI Cabang Belitung". Perjalanan panjang tersebut tidak lepas dari peran sejumlah tokoh Perintis seperti Bpk Alm HD Warjono, Pak Aripin, Pak Alm Dr Syafei, Pak Wisnu Sutanto, Pak Alm Baijuri, Pak Alm Bastian, Pak Alm Jubair, Pak Alm Ahing, Pak Ujang, Pak Hendrik Palit, Pak Alm Ingbo, Dr Hendro dan Lain Lain.
.jpg)
Menurut Hendrik Palit, cikal bakal pergerakan Bonsai di Belitung bermula dari Pameran Pembangunan Pertama Tahun 1990 di depan Gedung Perpustakaan yang sekarang Gedung Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan di samping Kodim 0414 Belitung. Semangat Komunitas Pecinta Tanaman Bonsai Dan Tanaman Hias yang kemudian berkembang menjadi Organisasi Resmi PPBI. Pada tahun 1991, PPBI Pusat menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang pembentukan dan penetapan kepengurusan pertama PPBI Cabang Belitung.
Pada tahun yang sama, kegiatan bonsai Belitung semakin berkembang dengan terbentuknya kepengurusan resmi Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Belitung. Ketua pertama dijabat oleh Bpk Alm Dr. Syafei yang saat itu juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan sekaligus dokter rumah sakit.
Tembus PAMNAS dan ASPAC 1991
Tahun 1991 menjadi Tonggak penting karena PPBI Belitung langsung mengikuti Pameran Nasional (PAMNAS) di Surabaya. Tak hanya itu, pada tahun yang sama mereka juga ambil bagian dalam ajang Asia Pasifik (ASPAC) Pertama yang digelar Tahun 1991 Di BALI.
PPBI Cabang Belitung mengikuti pameran Nasional di Surabaya Kemudian Koleksi bonsai PPBI Cabang Belitung langsung dibawa ke Bali untuk mengikuti ASPAC Oleh Bpk (Alm) Ismail Saleh.
Keikutsertaan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Dari 148 cabang yang ada saat itu, PPBI Cabang Belitung Menjadi Cabang Yang ke-11 secara nasional. Capaian tersebut membuat Belitung dikenal sebagai salah satu cabang tertua setelah PPBI Pusat.
Di media nasional, partisipasi PPBI Cabang Belitung sempat mendapat julukan unik, yakni “perawan desa masuk kota” menggambarkan semangat dan kejutan dari daerah yang mampu tampil di panggung internasional.
Perkembangan 1992–1997
Pasca 1991, kegiatan bonsai Belitung terus berlanjut. Pada 1992, partisipasi ke ajang PAMNAS di Senayan, Jakarta Periode 1993 hingga 1997 berbagai kegiatan Pameran, dan dokumentasi serta pretasi terus dilakukan sebagai bagian dari penguatan Organisasi PPBI Cabang Belitung dengan mendapatkan predikat pada pamnas berikut baik sekali pada pohon endemic pulau Belitung jenis sapu sapu dan sekuncung serta nasi nasi.